Skip to content

Tokoh Cerita Si Kabayan

sikabayanTokoh cerita rakyat Sunda, Si Kabayan, bukan hanya dikenal di Jawa Barat tetapi juga di Indonesia. Tokoh ini selalu dihubungkan dengan kekampungan, keluguan, kejujuran, kebodohan yang sering mendatangkan kekonyolan dan kelucuan.

Tokoh Si Kabayan juga dapat disepadankan dengan tokoh dari Arab, seperti Abunawas.

Si Kabayan itu bodoh spiritual tetapi cerdas intelektual. Para pengarang cerita- cerita Si Kabayan masa lalu bukan orang sembarangan, tetapi orang yang cerdas intelektual dan cerdas spiritual, yang menggunakan tokoh Kabayan sebagai sarana mentertawakan kebodohan manusia (Kabayan) dalam masalah spiritual, tetapi sangat cerdas, licik, pintar dalam hal- hal duniawi dan kepentingan diri sendiri.

Si Kabayan kadang menjelma menjadi Si Buta Tuli ini karena kemurnian hatinya. Ternyata Si Kabayan ini bodoh berdusta, alias telat mikir kalau membohongi orang. Pada suatu hari Si Kabayan mencuri buah nangka tetangganya, Ki Silah. Tentangganya menuduh Kabayan yang mencuri nangkanya. Tentu saja Kabayan menolak keras untuk mengakui mencuri nangka. Ki Silah tak kalah akal dan mengatakan bahwa jelas Kabayan mencuri nangka karena dibibirnya masih melekat getah nangka. Apa jawaban Kabayan? “Ah tidak mungkin, tadi sudah saya olesi minyak kelapa!”.

Kisah- kisah Si Kabayan mengandung pemikiran alternatif buat masa kini. Kita sekarang ini cerdas dalam unsur duniawi, materi, konsumtif-hedonistik, tetapi tumpul spiritual. Tidak bisa membedakan mana bumi mana langit, mana nyolong mana tidak nyolong. Pemecahan masalah ini tidak bisa memakai logika oposisi biner, yakni sekarang marilah kita ramai- ramai mencari orang spiritual yang jujur dan saleh tapi bodoh duniawi.

Logika Si Kabayan tidak demikian. Dua-duanya penting. Buta-tuli duniawi itu memang penting, tetapi setelah mengenal betul perkara- perkara duniawi. Kalau bodoh duniawi itu perlu, tetapi harus diimbangi buka mata dan buka telinga surgawi. Arah vertikal saja tidak benar tanpa arah horizontal. Arah horizontal saja tidak benar tanpa imbangan vertikal. Tetapi seperti kata pepatah, “orang baik itu sulit dicari”.

Tulisan diatas diambil dari sumbernya : Pikiran Rakyat, 4 Juli 2012 (kalau tidak salah tanggalnya, red.)

Leave a Reply